Colourful World -Bab 3

Bab 3

Kemenangan Yang Nyaris Sempurna

Laura menarik napas panjang disela makannya. Ini sarapan terakhirnya dengan teman-teman barunya di karantina Miss Singer. Tidak terasa, 29 hari kebersamaan mereka akan berakhir juga. Malam nanti adalah penentuan siapa yang terbaik dari 85 gadis bersuara merdu ini.

“Ehm… Aku tidak menyangka kalau hari ini adalah hari terakhir kita sama-sama,” ucap Laura sambil memegang telapak tangan Chantal dan Kiera yang duduk disisi kanan dan kirinya.

Chantal dan Kiera membalasnya dengan memegang erat tangan Laura lalu menempatkan dagu mereka dibahunya.

“Aku juga sedih. Aku mau kita tetap berhubungan baik setelah acara ini selesai,” ucap Chantal menahan tangis.

“Chantal, sekarang jangan nangis dulu. Nanti malem puncaknya. Aku nggak mau kita tangis-tangisan sekarang karena nanti takutnya malah mengganggu penampilan kita diatas panggung,” Kiera berusaha mengalihkan perhatian kedua sahabat barunya yang terlihat mulai menangis.

“Udah. Kiera bener, kamu jangan nangis dulu. Kalau nanti malam kita masuk 15 besar, nyanyian kita jadi nggak merdu, kan?” ungkap Laura sambil memeluk mereka berdua.

Mereka lalu melanjutkan kembali acara makannya hingga selesai. Masih seputar perpisahan, mereka berbincang-bincang hangat. Dan tidak ketinggalan juga, persiapan akhir untuk acara puncak malam harinya.

Para kru Miss Singer mulai berteriak agar semua finalis segera berkumpul di lobby hotel tepat jam 10 pagi. Mereka semua harus segera sampai di tempat acara untuk gladi bersih. Tidak boleh ada satu pun yang tidak sesuai dari rencana semula.

“Ingat, kalian semua harus konsentrasi penuh!” bentak seorang chaperone.

***

Setiap finalis mulai sibuk dengan dirinya masing-masing. Ada yang merapikan gaunnya berulang kali, ada juga yang kembali men-touch up riasannya agar terlihat makin sempurna.

Laura agak berbeda. Demam panggungnya kumat. Ia mondar-mandir tak karuan. Jantungnya berdetak dengan cepat. Chantal yang bisa melihat dengan jelas bahwa Laura sedang cemas, langsung menghampirinya.

“Kamu kenapa, Laura?” tanya Chantal pelan.

“Aku grogi. Aku takut, Chantal,” jawab Laura sambil menggigit bibir bawahnya.

Belum sempat Chantal menjawab, gadis dibelakang Laura mengambil alih pembicaraan. Itu Kiera.

“Sekarang kamu berdo’a dan aku yakin kamu pasti bisa lebih tenang,” ucap Kiera sambil memegang lembut pipi Laura.

Laura mengangguk. Ia lalu mengikuti saran Kiera untuk berdo’a agar hatinya dapat sedikit lebih tenang.

Setelah Laura selesai berdo’a dan membuka matanya dengan perlahan, hatinya mulai agak tenang. Para kru mulai mensejajarkan para finalis satu per satu

menurut abjad asal negaranya. Acara akan dimulai 2 menit lagi. Itu berarti kompetisi tinggal menghitung detik.

Semua hati para finalis mulai diliputi rasa cemas ketika tirai panggung mulai tersibak. Dentuman musik terdengar sangat keras ketika mereka melangkah menuju tengah panggung. Laura berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan demam panggungnya. Jantungnya berdetak sangat kencang ketika ia melihat lautan manusia didepannya. Ia sudah bisa menduga bahwa seluruh kursi di Shrine Auditorium, Los Angeles sudah terisi penuh.

Laura tersenyum ketika melihat delegasi Indonesia hadir disana. Kibaran bendera merah putih yang dibawa staf KJRI dari San Francisco, mampu memompa api semangatnya. Koreografi yang telah dipersiapkan mampu digerakkannya dengan sempurna.

Selesai acara pembukaan, MC Miss Singer mempersilahkan salah satu bintang tamu untuk segera menyanyi. Setelah itu pengenalan para dewan juri yang terdiri dari Celine Dion, Justin Timberlake, Ted Turner, Melania Knauss-Trump, Amelia Vega, dan juga empat orang lainnya yang punya pengaruh besar di dunia musik internasional.

Pengumuman 15 besar dimulai juga. Pembawa acara yang terdiri dari 2 orang masing-masing membawa kertas berisi finalis yang berhasil menyisihkan 70 gadis lainnya.

“The first, Dominican Republic!” ucap pembawa acara lelaki.

“Second, United Kingdom!” giliran sang wanita yang mengumumkan.

Canada, Brasil, Australia, USA, Panama, South Africa, Venezuela, Mexico, Sweden, dan Puerto Rico telah dipanggil untuk menemani Miss UK dan Miss Dominican Republic dibarisan depan. Laura mengamati dengan seksama. Ia tak mau jadi orang munafik, ia juga berharap bisa menemani Kiera dan Chantal yang sudah terpilih lebuh dulu.

“Indonesia!”

Kata indah itu akhirnya keluar juga dari mulut sang pembawa acara. Laura tak bisa menahan rasa haru. Sambil berjalan kedepan, ia menutup mulut dengan kedua tangannya tanda masih tak dapat dipercaya. Kiera dan Chantal langsung memeluknya ketika Laura sampai ditempat ketigabelas. Ia terlalu hanyut dalam kegembiraan hingga tak sadar ketika Miss Egypt dan Germany juga masuk 15 besar.

Untuk penentuan siapa yang berhak maju ke 10 besar, pihak panitia meminta juri untuk menilai keeleganan finalis ketika menggunakan evening gown. Semua finalis terlihat sangat cantik. Laura sendiri mengenakan gaun hitam berpayet warna ungu dengan kerah berbentuk V.

Sepertinya banyak juri yang jatuh hati pada Laura sehingga ia mendapat nilai tertinggi di sesi evening gown dan berhasil menjadi 10 besar. Sekarang Laura bisa tersenyum lebar-lebar pada penonton. Demam panggungnya seketika hilang berganti dengan semangat yang luar biasa. Hatinya makin gembira ketika Kiera dan Chantal juga masuk 10 besar bersama Sharon, Charlize, Rose Mary Alansky, Miss Canada, Jennifer Xanna, Miss Australia, Priscilla Arielle, Miss Panama, Gabriella Vasquez, Miss Puerto Rico, dan Denise Rivera, Miss Dominican Republic.

Laura harus merelakan Kiera saat gadis itu dinyatakan gagal masuk 5 besar. Namun ia masih bisa tersenyum saat Chantal dinyatakan berhasil. Dibelakang Chantal ada Denise, Gabriella, dan Jennifer untuk berkompetisi lebih jauh lagi.

***

Cara penilaian menjadi pemenang berbeda dengan ketika masuk 10 atau 5 besar. Sekarang lima gadis bersuara merdu itu diharuskan untuk menyanyikan dua

lagu yang terdiri dari lagu bertempo lambat dan cepat. Selain itu mereka juga harus menjawab pertanyaan yang dibuat teman sesama finalis.

Laura sukses menyanyikan lagu-lagunya. Ia bahkan mendapat standing applause dari Celine Dion yang menjadi juri sekaligus pemilik lagu That’s The Way It Is yang ia nyanyikan.

Sekarang saatnya sesi pertanyaan. Miss Dominican Republic mendapat kesempatan awal. Terlebih dahulu pembawa acara membacakan profil sang finalis.

“Denise Rivera Torino, 21 tahun dan Mahasiswi Akuntansi Universitas San Juan. Punya hobi membaca dan menulis, selain menyanyi. Dan ia bercita-cita menjadi penulis novel. Okay, Miss Dominican Republic, anda mendapat pertanyaan dari Miss Egypt, Sarah Bayram. Dengarkan dengan baik dan utarakan jika aku harus mengulang kembali pertanyaannya. Menurutmu, mengapa semua siswa sekolah dasar dan menengah diharuskan belajar sejarah selain karena itu sangat penting?”

Denise tersenyum sejenak, lalu mulai menjawab, “Sejarah memiliki nilai karakteristik yang tinggi. Kita bisa mengetahui apa saja yang telah dilakukan manusia di masa lampau. Kita juga bisa mengambil manfaat yang sangat berarti untuk hidup kita. Selain itu, kita bisa bertindak lebih baik dan menilai segala sesuatunya dengan bijaksana. Dengan sejarah juga kita dapat menyikapi fenomena serta dinamika kehidupan,” Denise menjawab tenang.

Setelah Denise, waktunya Chantal maju kedepan. Lalu baru Jennifer dan kemudian Gabriella. Sementara Laura mendapat giliran yang terakhir.

“Okay, Miss Indonesia. Laura Maurisia Morasca, 16 tahun, dan masih tercatat sebagai siswi USA International School di Jakarta. Selain menyanyi, ia memiliki hobi travelling dan shopping. Ia juga ingin menjadi seorang bintang besar. Obsesinya yang lain ingin membuat lembaga bahasa gratis di negeri asalnya. Okay Laura, anda mendapat pertanyaan yang sangat penting dari Miss Finland, Coralla Zevit. Sudah siap?”

Laura mengangguk cepat sambil tak pernah melepaskan sedetikpun senyum manis dari bibir indahnya.

“Apa hal terberat yang pernah kau alami didalam hidupmu?”

Laura memejamkan matanya sejenak, dan dengan berusaha setenang mungkin, ia mulai menjawab, “Bagiku, hal terberat yang pernah kualami dalam hidupku adalah ketika aku sadar bahwa aku memiliki sahabat-sahabat seorang bintang. Aku selalu menilai segala tingkah lakuku senantiasa salah dan tak sejalan menurut pandangan mereka. Kerapkali aku terlihat tidak setuju akan hal-hal yang mereka lakukan, yang ternyata diluar dugaan. Ketika itu pula kami berselisih paham tentang argumen-argumenku yang menurut mereka tidak realistis. Aku sadar akan eksistensiku yang hanya seorang sahabat, yang tidak memiliki predikat. Namun aku selalu berusaha sebaik mungkin untuk tetap berjalan lurus disamping mereka tanpa melenyapkan kepribadianku. Dan aku bersyukur, bahwa sampai saat ini hubungan kami baik-baik saja. Terima kasih,”

***

Chantal, Gabriella, Denise, Laura, dan Jennifer berpegangan erat satu sama lain. Tinggal beberapa detik lagi pemenang akan diumumkan.

“The 4th runner up is…”

“Dominican Republic!”

Denise melangkah maju kedepan untuk menerima buket bunga. Ia memberikan senyum terbaiknya dan rela hanya menjadi 5 besar.

“And then, 3rd runner up is…”

“Venezuela!”

Laura mengecup Chantal. Seketika gadis itu segera lenyap dari pandangannya.

“The 2nd runner up is…”

“Australia!”

Jennifer melangkah maju setelah memeluk Gabriella dan Laura secara bergantian.

Sekarang hanya tersisa dua orang terbaik dan itu berarti salah satu dari mereka akan keluar menjadi pemenang. Untuk menenangkan diri, Gabriella mengecup pipi Laura dengan lembut. Masing-masing mereka memberi semangat. Laura merasa cemas, ia menggenggam erat tangan Gaby. Saat ini sudah dipastikan, delegasi Indonesia dan Puerto Rico sedang harap-harap cemas. Mereka menginginkan wakilnya dapat berjaya di ajang ini.

“The 1st runner up is Puerto Rico and the 1st Miss Singer is Indonesia!!” suara sang pembawa acara terdengar sangat lantang.

Laura menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia sangat terkejut dan seakan tak percaya. Seketika Gabriella langsung memeluknya. Laura sepertinya ingin menangis. Ia tak dapat lagi menahan haru ketika Celine Dion memasangkan selempang ditubuhnya dan Amelia Vega memasangkan mahkota kebanggaan dikepalanya. Laura akhirnya menangis saat pembawa acara mempersilakannya untuk berjalan di panggung sebagai seorang Miss Singer untuk pertama kalinya.

***

Belum habis tangis haru campur bahagia karena berhasil mendapatkan gelar kehormatan sebagai The First Miss Singer, datanglah 4 gadis cantik yang 3 diantaranya sudah sangat dikenal di jagat hiburan internasional. Semua mata para finalis membelalak tak percaya, termasuk Laura yang langsung dipeluk keempatnya.

“Congrats ya…” ucap keempatnya kompak.

“Kalian? Oh my God!! I’m so lucky tonight!” Laura terlihat sangat bahagia.

“Loh… kita kan sahabat. Masa sih kita nggak datang?!” jawab Rachel manis.

“Kak Erish! Aku nggak nyangka Kak Erish ada disini. Bukannya Kak Erish bilang nggak bisa dateng ya waktu terakhir kita Skype?” Laura bertanya penasaran, lalu tersenyum.

“Nggak seneng nih kakak disini? Kakak emang sengaja kok bikin surprise buat kamu,” Erish memencet hidung Laura dan langsung memeluknya lagi.

Sementara yang lainnya melihat Laura dengan pandangan seksama dan nyaris tak percaya. Banyak dari mereka yang berbisik-bisik membicarakan sang pemenang.

“Laura, mereka bilang kamu mengkhawatirkan aku. Terima kasih ya, tapi aku baik-baik aja,” Ingrid menyentuh pundak Laura pelan sambil tersenyum.

“Syukurlah…” Laura tersenyum lega.

“Party!” Amanora berbicara tiba-tiba. “Bagaimana kalau ada party untuk merayakan kemenangan Laura?”

Laura, Erish, Ingrid, dan Rachel saling menatap satu sama lain lalu mengangguk bersama, “Ok.. Your wish comes true, miss party goers!” jawab mereka kompak.

“Yes, I am!” Amanora tersenyum penuh kemenangan.

“Tapi nggak dalam waktu dekat ini ya. Aku harus lihat jadwalku dulu. Bukan bermaksud menyombong loh… Tapi kalian nggak mau kan mahkota ini terlepas dari kepalaku secepat aku mendapatkannya?” Laura berharap cemas menanti jawaban dari sahabat-sahabatnya.

“Siapa bilang akan ada pesta sekarang? But sooner…” jawab Amanora diiringi

anggukan Ingrid, Rachel, dan Erish.

“Thanks girls…” Laura melanjutkan, “Oh ya teman-teman,” Laura berbalik menghadap teman-teman sesama finalis Miss Singer lalu memperkenalkan sahabat-sahabatnya, “Seperti yang sudah bisa kalian lihat sendiri, mereka semua ini adalah sahabat-sahabatku. Kalian pasti sudah mengenal Rachel, Ingrid, dan Amanora. Nah yang disebelah Rachel itu sahabatku juga, namanya Erish, Erishia Carella. Dia juga superstar loh di negaraku, hehehe,” Laura menunggu tanggapan karena ia tak bermaksud menyombongkan diri memiliki sahabat orang terkenal.

“Aku sudah menyangka pertanyaan yang kamu jawab tadi ternyata memang benar,” Chantal bersemangat.

“Ahh kenapa bisa bintang yang kukagumi ternyata sahabatmu. Rachel.. Apakah aku boleh memelukmu?” Andrea memohon penuh harapan.

Rachel tersenyum dan membuka tangannya, siap untuk dipeluk Andrea Ferdenson, Miss Ireland yang hampir 2 minggu sebelumnya sangat memuji penampilannya di panggung American Music Awards.

“Maaf ya, karena saat di Nokia Theatre tidak memberitahumu soal ini. Kamu nggak marah, kan?” Laura meminta maaf.

“Tadinya. Tapi setelah kamu mewujudkan mimpiku bertemu Rachel dan aku bisa memeluknya, kau kumaafkan,” jawab Andrea seusai melepas pelukannya dari Rachel.

Laura mengalihkan pandangannya kearah Amanora, “Mana adikmu? Dia sudah tidak mengakuiku lagi ya sebagai kekasihnya?” Laura terlihat masam, wajahnya cemberut ketika menyadari bahwa Valder tak ada disana.

Amanora memandang Erish, Rachel, dan Ingrid, lalu berusaha menenangkan Laura, “Sayang, sebenarnya adikku sangat ingin datang malam ini. Tapi mendadak Kate harus pergi dengan Mommy ke Florida, jadi Valder yang harus menggantikan kehadiran Kate di suatu meeting di London. Tapi kamu tenang saja, aku selalu update semuanya ke dia dan aku juga sudah mengirimkan foto-fotomu tadi diatas panggung. Valder akan pulang besok pagi dengan pesawat pertama dari Heathrow,”

Ketika Laura ingin lebih banyak berbicara lagi dengan para sahabatnya, beberapa kru Miss Singer memanggilnya untuk segera hadir dalam konferensi pers di Lobby. Laura juga diberitahu bahwa ibunya juga sudah ada disana dan akan mendampinginya selama konferensi pers berlangsung. Laura memandang wajah keempat sahabatnya yang langsung mengangguk tanda mengizinkan.

“Come on, Laura. Sekarang, ini duniamu. Kamu harus bisa membiasakan diri untuk bertemu paparazzi. Karena, you are a superstar, baby…” ucap Rachel sambil memegang lembut pipi Laura.

Laura tersenyum dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Sebelum berlalu, ia berbisik pelan kearah Amanora, “Telepon adikmu sekarang dan bilang, Aku sangat rindu padanya,”

Amanora tersenyum, “Ok,” ia terlihat langsung merogoh tas dan mencari ponselnya. Langsung ditekannya nomor darurat pertama, “Laura bilang dia sangat merindukanmu,”

*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s