Colourful World – Bab 5

Bab 5

                                                                                    Erishia Yang Menghilang

“Laura, kenapa sekarang Erish sangat sulit dihubungi?” pertanyaan itu langsung dilontarkan Ingrid ketika Laura bertandang kerumahnya di New York.

Hari ini Ingrid sengaja mengundang sahabat-sahabatnya untuk pesta barbeque dirumahnya untuk merayakan terpilihnya ia sebagai brand ambassador Louis Vuitton.

“Mmmm aku juga kemaren telepon Kak Erish, tapi kayaknya dia lagi bad mood. Waktu baru terima teleponku, dia langsung bilang, ‘Laura, teleponnya nanti ya. Kak Erish lagi capek,’. Hhhh ngeselin,” Laura terlihat dongkol sekarang menyadari tingkah laku Erish yang diluar kebiasaan.

“Iya. Aku juga bermaksud mau kasih tahu dia soal ini. Kalian tahu apa tanggapannya? ‘Selamet deh. Sorry, aku sibuk,’. Terus dia langsung tutup teleponnya,”

“Memang Erish sampai separah itu ya?” tanya Rachel.

“Aku juga nggak nyangka, Rachel,” Laura menggelengkan kepalanya pelan.

“Sebenarnya Erish lagi punya masalah apa, sih?” Rachel bertanya lagi.

Laura dan Ingrid sontak menggelengkan kepalanya bersamaan, tanda mereka juga tak tahu apa-apa. Sementara itu, Amanora sudah siap melancarkan misil berangnya.

“Kita harus tanya langsung ke dia! Apa sebabnya dia dengan tiba-tiba cuek sama kita? Apa dia nggak bisa menghargai sahabatnya sendiri?!” Amanora mulai naik pitam.

“Amanora, udah deh. Nanti aku yang akan cari tahu kenapa Kak Erish jadi kayak gini. Aku percaya, Kak Erish pasti punya alasan yang jelas. Jadi kita jangan men-judge dia dulu sebelum kita tahu hal yang sebenarnya. Kamu bisa kan, Amanora?” Laura memandang sambil terlihat memohon pada Amanora, sahabat yang juga calon kakak iparnya itu.

Amanora mengangguk tanda menyetujui permintaan Laura dan langsung terlihat pergi menghampiri adik perempuan Ingrid yang sedang sibuk menyiapkan panggangan untuk barbeque.

***

Laura masih berjalan mondar-mandir dikamarnya saat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia berpikir, pasti di Indonesia sekarang sudah pukul 3 sore. Tapi, ia belum juga memutuskan untuk menghubungi Erish atau tidak.

“Halo, selamat sore?”

“Iya, sore. Cari siapa?” tanya wanita diujung telepon.

“Mami Jenny ya? Ini Laura, Mi,” ucap Laura.

“Astaga, Laura. Apa kabar, sayang? Gimana LA?” tanyanya lagi.

“LA sih baik-baik aja, Mi. Tapi akunya yang lagi bingung,” jawab Laura pada wanita yang merupakan ibunda Erishia itu.

“Ada apa, Laura? Kamu mau ngomong sama Kak Erish ya sayang? Kak Erish nggak ada. Dia lagi latihan dance,” ucap Mami Jenny.

“Enggak, Mi. Aku nggak cari Kak Erish. Aku malah lagi bingung sama dia. Akhir-akhir ini Kak Erish sering banget bad mood kalau aku atau yang lain telepon

dia. Pasti jawaban Kak Erish selalu lagi capek,” ungkap Laura.

“Denger Mami, Laura. Bukan hanya kamu, Rachel, Ingrid, dan Amanora yang bingung sama Kak Erish. Mami, Papi, Kak Ronald, Kak There, bahkan Xavi, juga sama. Mami nggak nyangka, hubungan Kak Erish dan Daniel malah buat dia berubah dan…”

“Daniel? Hubungan? Maksud Mami apa? Siapa Daniel?” Laura memotong pembicaraan Mami Jenny.

“Kamu nggak tahu, sayang?”

“Aku nggak tahu apa-apa, Mi. Emang kenapa?”

“Kak Erish pacaran sama Daniel, seorang Eksekutif Muda yang cukup sukses dikantornya. Tapi Mami juga nggak tahu, apa yang udah dilakuin Daniel sampai Kak Erish bisa berubah kayak sekarang,” jawab Mami Jenny jelas.

Laura terdiam. Jadi ini penyebabnya? Meski masih ada juga pertanyaan besar dibenak Laura. Seperti yang sudah dikatakan Mami Jenny, apa yang dibuat Daniel hingga Erish berubah? Laura berpikir, tidak mungkin hanya karena menjalin suatu hubungan dengan someone special, seseorang bisa berubah. Laura membandingkan dengan dirinya sendiri. Sejak bersama Valder, ia sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengan sahabat-sahabatnya, apalagi keluarganya sendiri.

“Laura? Laura, kamu masih disitu, sayang?” pertanyaan Mami Jenny mengejutkannya.

“Eh iya, Mi.”

“Laura, Mami mau minta tolonmg sama kamu,”

“Minta tolong apa, Mi?”

“Kak Erish, Laura. Mami mau anak Mami yang dulu. Erishia yang ceria. Kamu coba hubungi Kak Erish ya sayang. Kamu ngomong baik-baik sama dia, biar dia ngerti,” pinta Mami Jenny.

“Tapi itu nggak mungkin, Mi. Kak Erish aja jarang mau terima teleponku,”

“Tolong Mami, sayang. Kalau sama Mami, Nanti yang ada malah ribut. Mami nggak mau itu terjadi,”

”Nanti aku akan berusaha coba, Mi. Tapi aku nggak bisa janji,”

“Iya sayang, Mami ngerti. Makasih ya,”

“Mami, udah dulu ya. Aku harus tidur. Udah jam setengah 2 pagi, nih. Besok siang aku harus latihan untuk konser besoknya lagi di Detroit. Do’ain konserku lancar ya, Mi?”

“Pasti Mami do’ain. Selamat tidur and have a nice dream,”

“Thanks, Mi,”

***

Setelah konser, Laura menghubungi Amanora yang sedang berleha-leha di ruang tamu apartemennya. Ia hendak minta izin untuk datang kesana bersama Rachel dan Ingrid.

“Amanora, kamu nggak sibuk, kan?” tanya Laura.

“No. Why?”

“Gini loh, aku mau cerita tentang Kak Erish. Gimana kalau di apartemenmu?”

“Aku sih ok-ok aja. Berarti kamu ke New York, dong?”

“Iya. Oh ya, tolong kasih tahu Ingrid dan Rachel juga ya?! Aku takut nggak sempet hubungi mereka karena sekarang aku lagi di perjalanan ke Bandara, langsung terbang ke New York,”

“Ok! I’ll call them and wait for you… See ya!”

Laura langsung mematikan sambungan teleponnya dan beranjak turun dari mobil karena sudah tiba di Bandara Lax. Dan beruntungnya, tepat saat itu juga ada

sebuah pengumuman bergema bahwa pesawat yang menuju New York akan segera

berangkat dalam beberapa menit lagi. Dengan begitu, Laura tak perlu lagi menunggu lama.

Sesampainya di Bandara John F. Kennedy, New York, Laura memutuskan untuk berpisah sementara dengan Allyson, asisten pribadinya.

“Ok, kamu boleh libur selama beberapa hari bersama sahabat-sahabatmu. Tapi setelah itu, mungkin kau akan sangat sibuk,” Allyson mengingatkan.

“Oh… Come on! Aku tahu nanti akan sangat sibuk karena beberapa jadwal harus ditunda, tapi aku nggak mau memikirkannya sekarang. Aku ingin liburan! Dan sebaiknya, kau juga menikmati liburanmu. Nah, sekarang aku harus pergi! Bye Ally…” Laura mengecup lembut kedua pipi Allyson.

“Yeah, enjoy the holiday for few days. Right?!”

“Absolutely yes! Enjoy your holiday!” kata Laura tersenyum sebelum menutup pintu taksinya, meninggalkan Allyson di Bandara sendirian dan memutuskan tujuan liburannya sendiri.

***

Amanora membuka gerendel pintu apartemennya dan mendapati Laura duduk diatas koper-koper bawaannya.

“Oh Laura…” Amanora tersenyum, senang Laura telah datang.

Amanora dan Laura pun berpelukan. Tak lama, Ingrid menyusul keluar dan ikut bergabung.

“Oh ya, aku lupa bilang kalau Ingrid udah ada disini sejam yang lalu,” Amanora memberitahu kemudian, meskipun terkesan sangat terlambat.

“Rachel?” tanya Laura sambil membawa koper-kopernya masuk.

“Oh, entahlah… Dia belum datang. Wine?” Amanora menuju mini bar-nya yang terletak tak jauh dari ruang tamu.

“Iya, aku minta red wine,” Ingrid menyusul Laura.

“Nope, thanks,” Laura menolak karena menyadari belum cukup dewasa untuk minum wine. Ia duduk melemaskan bahu di sofa, “By the way, gimana kalau kita telepon Rachel?”

Ingrid dan Amanora menoleh kearah Laura dan tersenyum. “Great idea!” Amanora langsung mengambil gagang telepon.

“Halo?” jawab Rachel diujung sana.

“Hola Rachel!” ucap Amanora lalu ia mengaktifkan loudspeaker agar Laura dan Ingrid bisa ikut mendengar.

“Hi, dear! Sorry aku belum bisa datang ke apartemenmu sekarang. Mungkin paling cepat lusa aku ada waktu luang. Gimana? Kalian mau menungguku?” Rachel meminta maaf dan menjelaskan alasannya.

Mimik muka Laura, Ingrid, dan Amanora sangat menyayangkan, tapi mereka bisa mengerti kesibukan Rachel.

“Yup. Kita bisa ngerti. Dan kita pasti akan menunggumu datang. Tapi kamu janji harus datang ya?” Ingrid angkat bicara.

“Okay. Aku janji aku pasti datang. Makasih kalian udah mau ngerti. Ow, gawat! Aku harus tampil sekarang, baiklah sampai jumpa ya!” Rachel memutuskan sambungan telepon.

“Well, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Ingrid bertanya.

“Pastinya simpan cerita Kak Erish sampai Rachel datang,” ucap Laura.

“Yah, baiklah. Walaupun aku penasaran,” Ingrid memainkan rambutnya.

“Aku juga. Mmmm… Apa rencana kita sebelum Rachel datang?” Amanora duduk disebelah Laura.

“Aha! Aku punya ide bagus sambil menunggu Rachel datang,” cetus Ingrid.

“Apa?” Amanora penasaran.

“Keliling Dunia? Hehe bukan sih, maksudnya cuma ke suatu negara. Liburan ke luar negeri. Gimana?”

“Setuju!” jawab Laura langsung.

“Sangat setuju!” tambah Amanora.

“Ok. Sekarang kita tentukan mau pergi ke negara mana,” Ingrid mulai berpikir.

“Ke Swedia? Lihat Aurora Borealis dengan jelas?” Laura menyampaikan ide yang muncul dalam pikirannya. “Atau Florence, Italia-Kota Seni?”

“Mmmm… Spanyol? Kita berjemur di Barcelonita,” Ingrid tambah bingung, Laura mengernyitkan dahi. Dia tak perlu berjemur!

“Prancis? Shopping baju-baju keren disana,” Amanora mengusulkan, Laura terlihat sangat tertarik.

“Eits, tunggu dulu. Setelah ketemu negara mana yang dikunjungi, aku mau langsung pesan tiket pesawat yang bisa berangkat sore atau malam ini juga. Dan, tentu saja, visa untukmu, Laura,” Amanora memandang sesaat.

Laura menggigit bibir bawahnya. Ini resiko orang yang berpaspor Indonesia! Amanora dan Ingrid yang berpaspor AS pasti tidak memerlukan visa untuk datang ke Eropa, karena sudah bisa dipastikan mereka akan menuju Benua Biru, melihat usulan-usulan negara yang tercetus diatas.

Amanora melanjutkan, “Kita hanya beberapa jam saja disana, jadi taruh koper kalian dikamarku!”

“Ya, bagus juga. Dengan begitu, aku sama Ingrid nggak perlu bantu kamu untuk packing kan?” Laura mengangguk setuju.

“Yeah, karna kalian selalu menjerit melihat koper-koperku!”

“Jadi, mau negara mana yang diputuskan?” tanya Ingrid bingung karena banyak tempat yang masuk daftar.

“Prancis! Kita harus shopping!” ucap Laura lantang dan jelas.

***

Sampai di Paris, mereka langsung menuntaskan misi mulia yang sudah dijunjung sejak di New York: Shopping! Tak perlu ditanya bagaimana cara mereka mendapatkan Visa Schengen untuk Laura. Amanora memiliki rekanan bisnis yang juga bekerja di Konsulat Prancis di New York, jadi Visa untuk Laura bisa didapat dalam hitungan menit.

“Ehmmm… I love it!” kata itu langsung keluar dari mulut Laura ketika ia mencoba jaket sulaman dari brand Guess.

Ingrid tak lupa datang ke Louis Vuitton. Menurut Laura, ini ide bagus. Sebab mereka dapat discount sampai 70%. Mereka hanya punya waktu 10 jam di Paris, karena perjalanan dari New York sudah cukup memakan waktu. Jangan sampai Rachel berada di apartemen Amanora saat mereka belum kembali.

“Jean Paul Gaultier!” Amanora menarik kedua tangan sahabatnya yang sudah mulai dipenuhi shopping bag.

Amanora mencoba blues panjang warna hijau tosca. Tapi Laura dan Ingrid langsung menggeleng bersamaan. Karena tak dapat restu, Amanora akhirnya mengurungkan niatnya membeli blues itu dan akhirnya membeli blues dengan model yang hampir sama berwarna fuschia di butik Stella McCartney, yang sebenarnya berasal dari New York.

Laura juga beruntung. Ia mendapatkan pakaian yang dia inginkan di Moschino. Sepotong camisol hitam yang sangat cantik saat dicobanya.

“Untung saja aku cukup bersabar hingga aku mendapatkan pakaian yang cantik ini,” ucap Laura sambil mengerling kearah Ingrid dan Amanora.

“Ya udah deh cepetan yuk. Waktu kita disini sudah makin sebentar. Memang kamu nggak jadi cari sepatu dan tas? Aku yakin kamu tidak akan melewatkan koleksi terbaru Birkin. Aw, kita juga harus ke Elizabeth Arden! Aku harus mengecek penjualan parfumku di Paris,” ungkap sang party goers menjelaskan.

Laura mengangguk cepat. Benar apa yang Amanora bilang, ia tak ingin melewatkan koleksi tas tangan terbaru dari Hermes Birkin. Belum lagi, Laura juga pasti akan menyesal jika tak membeli sepatu-sepatu cantik Christian Louboutin.

“Aku harus beli jam tangan!” Laura tiba-tiba menjerit ketika ketiganya sudah bersiap melongok koleksi terbaru Gucci dan Givenchy.

“Astaga! Biasa aja. Kita bisa ke mampir Tag Heuer sebelum datang ke Butik Versace dan Roberto Cavalli,” Amanora memberitahu Laura.

“Enggak! Aku mau Roger Dubuis!” Laura menjerit lebih keras lagi.

Amanora memandang ke sekeliling, memastikan para pria dan wanita Prancis tak memperhatikan mereka, “Iya sayang. Okay,” Amanora menarik lengan Laura, sementara Ingrid langsung membuka shopping map-nya untuk mencari dimana letak Roger Dubuis.

***

“How you guys feelin’?” tanya Rachel saat baru masuk kedalam apartemen.

“We’re fine,” Laura mewakili semuanya menjawab pertanyaan Rachel.

“Yeah syukurlah. Kalau sedang mendengar satu masalah, baiknya kita sedang dalam keadaan yang baik,” ucap Rachel sambil melangkah ke kamar Amanora untuk menaruh kopernya.

Rachel terhenti sejenak di daun pintu, “Kalian darimana, girls?”

Laura menepuk jidatnya dan maju menghampiri Rachel, “We are so sorry, Rachel. Saat kamu bilang kamu baru bisa datang hari ini, dua hari yang lalu kita sepakat untuk liburan sambil nunggu kamu datang. Tapi bukan liburan yang sebenarnya kok. Kita cuma 10 jam shopping di Paris,” Laura menjelaskan secara rinci dan tak berbohong sedikitpun.

“Setelah itu kita langsung pulang lagi,”

“Lalu apa masalahnya denganku? Masa kalian liburan harus nunggu aku. Kalau bentrok sama schedule-ku berarti kalian nggak pernah bisa liburan dong? Biasa aja, lagi. Toh suatu hari nanti kita pasti bisa pergi berlibur sama-sama lagi. Secepatnya!”

Laura, Ingrid, dan Amanora mengangguk dan tersenyum lega. Sementara Rachel memulai pembicaraan lagi.

“Okay, sekarang gimana cerita tentang Erish?”

“Laura!!!” ucap Ingrid dan Amanora berbarengan.

“Iya, aku juga tahu. Gini deh, sebenernya masalah Kak Erish cuma satu, dia punya pacar,”

“Apa? Erish punya pacar?” ucap tiga orang itu bersama.

“Aku juga kaget, kok Kak Erish nggak pernah cerita. Malah sekarang dia lagi jadi orang aneh,” Laura menambahkan.

“Miss Perfect punya pacar juga,” Ingrid berucap pelan.

Laura mengerti maksud perkataan Ingrid. Erish memang Miss Perfect. Dia benar-benar menginginkan lelaki yang sangat sempurna dimatanya. Maka tak heran, mereka begitu kaget begitu mendengar Erish sudah memiliki kekasih.

“Laura, kamu harus kasih warning ke dia kalo lebih mentingin pacarnya, persahabatan kita hancur,” Amanora menegaskan pada Laura.

“Jangan!” Laura langsung menolak. “Kalo aku ada diposisinya, aku nggak

mau dihadapkan sama pilihan,”

*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s