Colourful World – Bab 5

Bab 5

                                                                                    Erishia Yang Menghilang

“Laura, kenapa sekarang Erish sangat sulit dihubungi?” pertanyaan itu langsung dilontarkan Ingrid ketika Laura bertandang kerumahnya di New York.

Hari ini Ingrid sengaja mengundang sahabat-sahabatnya untuk pesta barbeque dirumahnya untuk merayakan terpilihnya ia sebagai brand ambassador Louis Vuitton.

“Mmmm aku juga kemaren telepon Kak Erish, tapi kayaknya dia lagi bad mood. Waktu baru terima teleponku, dia langsung bilang, ‘Laura, teleponnya nanti ya. Kak Erish lagi capek,’. Hhhh ngeselin,” Laura terlihat dongkol sekarang menyadari tingkah laku Erish yang diluar kebiasaan.

“Iya. Aku juga bermaksud mau kasih tahu dia soal ini. Kalian tahu apa tanggapannya? ‘Selamet deh. Sorry, aku sibuk,’. Terus dia langsung tutup teleponnya,”

“Memang Erish sampai separah itu ya?” tanya Rachel.

“Aku juga nggak nyangka, Rachel,” Laura menggelengkan kepalanya pelan.

“Sebenarnya Erish lagi punya masalah apa, sih?” Rachel bertanya lagi.

Laura dan Ingrid sontak menggelengkan kepalanya bersamaan, tanda mereka juga tak tahu apa-apa. Sementara itu, Amanora sudah siap melancarkan misil berangnya.

“Kita harus tanya langsung ke dia! Apa sebabnya dia dengan tiba-tiba cuek sama kita? Apa dia nggak bisa menghargai sahabatnya sendiri?!” Amanora mulai naik pitam.

“Amanora, udah deh. Nanti aku yang akan cari tahu kenapa Kak Erish jadi kayak gini. Aku percaya, Kak Erish pasti punya alasan yang jelas. Jadi kita jangan men-judge dia dulu sebelum kita tahu hal yang sebenarnya. Kamu bisa kan, Amanora?” Laura memandang sambil terlihat memohon pada Amanora, sahabat yang juga calon kakak iparnya itu.

Amanora mengangguk tanda menyetujui permintaan Laura dan langsung terlihat pergi menghampiri adik perempuan Ingrid yang sedang sibuk menyiapkan panggangan untuk barbeque.

***

Laura masih berjalan mondar-mandir dikamarnya saat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia berpikir, pasti di Indonesia sekarang sudah pukul 3 sore. Tapi, ia belum juga memutuskan untuk menghubungi Erish atau tidak.

“Halo, selamat sore?”

“Iya, sore. Cari siapa?” tanya wanita diujung telepon.

“Mami Jenny ya? Ini Laura, Mi,” ucap Laura.

“Astaga, Laura. Apa kabar, sayang? Gimana LA?” tanyanya lagi.

“LA sih baik-baik aja, Mi. Tapi akunya yang lagi bingung,” jawab Laura pada wanita yang merupakan ibunda Erishia itu.

“Ada apa, Laura? Kamu mau ngomong sama Kak Erish ya sayang? Kak Erish nggak ada. Dia lagi latihan dance,” ucap Mami Jenny.

“Enggak, Mi. Aku nggak cari Kak Erish. Aku malah lagi bingung sama dia. Akhir-akhir ini Kak Erish sering banget bad mood kalau aku atau yang lain telepon

dia. Pasti jawaban Kak Erish selalu lagi capek,” ungkap Laura.

“Denger Mami, Laura. Bukan hanya kamu, Rachel, Ingrid, dan Amanora yang bingung sama Kak Erish. Mami, Papi, Kak Ronald, Kak There, bahkan Xavi, juga sama. Mami nggak nyangka, hubungan Kak Erish dan Daniel malah buat dia berubah dan…”

“Daniel? Hubungan? Maksud Mami apa? Siapa Daniel?” Laura memotong pembicaraan Mami Jenny.

“Kamu nggak tahu, sayang?”

“Aku nggak tahu apa-apa, Mi. Emang kenapa?”

“Kak Erish pacaran sama Daniel, seorang Eksekutif Muda yang cukup sukses dikantornya. Tapi Mami juga nggak tahu, apa yang udah dilakuin Daniel sampai Kak Erish bisa berubah kayak sekarang,” jawab Mami Jenny jelas.

Laura terdiam. Jadi ini penyebabnya? Meski masih ada juga pertanyaan besar dibenak Laura. Seperti yang sudah dikatakan Mami Jenny, apa yang dibuat Daniel hingga Erish berubah? Laura berpikir, tidak mungkin hanya karena menjalin suatu hubungan dengan someone special, seseorang bisa berubah. Laura membandingkan dengan dirinya sendiri. Sejak bersama Valder, ia sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengan sahabat-sahabatnya, apalagi keluarganya sendiri.

“Laura? Laura, kamu masih disitu, sayang?” pertanyaan Mami Jenny mengejutkannya.

“Eh iya, Mi.”

“Laura, Mami mau minta tolonmg sama kamu,”

“Minta tolong apa, Mi?”

“Kak Erish, Laura. Mami mau anak Mami yang dulu. Erishia yang ceria. Kamu coba hubungi Kak Erish ya sayang. Kamu ngomong baik-baik sama dia, biar dia ngerti,” pinta Mami Jenny.

“Tapi itu nggak mungkin, Mi. Kak Erish aja jarang mau terima teleponku,”

“Tolong Mami, sayang. Kalau sama Mami, Nanti yang ada malah ribut. Mami nggak mau itu terjadi,”

”Nanti aku akan berusaha coba, Mi. Tapi aku nggak bisa janji,”

“Iya sayang, Mami ngerti. Makasih ya,”

“Mami, udah dulu ya. Aku harus tidur. Udah jam setengah 2 pagi, nih. Besok siang aku harus latihan untuk konser besoknya lagi di Detroit. Do’ain konserku lancar ya, Mi?”

“Pasti Mami do’ain. Selamat tidur and have a nice dream,”

“Thanks, Mi,”

***

Setelah konser, Laura menghubungi Amanora yang sedang berleha-leha di ruang tamu apartemennya. Ia hendak minta izin untuk datang kesana bersama Rachel dan Ingrid.

“Amanora, kamu nggak sibuk, kan?” tanya Laura.

“No. Why?”

“Gini loh, aku mau cerita tentang Kak Erish. Gimana kalau di apartemenmu?”

“Aku sih ok-ok aja. Berarti kamu ke New York, dong?”

“Iya. Oh ya, tolong kasih tahu Ingrid dan Rachel juga ya?! Aku takut nggak sempet hubungi mereka karena sekarang aku lagi di perjalanan ke Bandara, langsung terbang ke New York,”

“Ok! I’ll call them and wait for you… See ya!”

Laura langsung mematikan sambungan teleponnya dan beranjak turun dari mobil karena sudah tiba di Bandara Lax. Dan beruntungnya, tepat saat itu juga ada

sebuah pengumuman bergema bahwa pesawat yang menuju New York akan segera

berangkat dalam beberapa menit lagi. Dengan begitu, Laura tak perlu lagi menunggu lama.

Sesampainya di Bandara John F. Kennedy, New York, Laura memutuskan untuk berpisah sementara dengan Allyson, asisten pribadinya.

“Ok, kamu boleh libur selama beberapa hari bersama sahabat-sahabatmu. Tapi setelah itu, mungkin kau akan sangat sibuk,” Allyson mengingatkan.

“Oh… Come on! Aku tahu nanti akan sangat sibuk karena beberapa jadwal harus ditunda, tapi aku nggak mau memikirkannya sekarang. Aku ingin liburan! Dan sebaiknya, kau juga menikmati liburanmu. Nah, sekarang aku harus pergi! Bye Ally…” Laura mengecup lembut kedua pipi Allyson.

“Yeah, enjoy the holiday for few days. Right?!”

“Absolutely yes! Enjoy your holiday!” kata Laura tersenyum sebelum menutup pintu taksinya, meninggalkan Allyson di Bandara sendirian dan memutuskan tujuan liburannya sendiri.

***

Amanora membuka gerendel pintu apartemennya dan mendapati Laura duduk diatas koper-koper bawaannya.

“Oh Laura…” Amanora tersenyum, senang Laura telah datang.

Amanora dan Laura pun berpelukan. Tak lama, Ingrid menyusul keluar dan ikut bergabung.

“Oh ya, aku lupa bilang kalau Ingrid udah ada disini sejam yang lalu,” Amanora memberitahu kemudian, meskipun terkesan sangat terlambat.

“Rachel?” tanya Laura sambil membawa koper-kopernya masuk.

“Oh, entahlah… Dia belum datang. Wine?” Amanora menuju mini bar-nya yang terletak tak jauh dari ruang tamu.

“Iya, aku minta red wine,” Ingrid menyusul Laura.

“Nope, thanks,” Laura menolak karena menyadari belum cukup dewasa untuk minum wine. Ia duduk melemaskan bahu di sofa, “By the way, gimana kalau kita telepon Rachel?”

Ingrid dan Amanora menoleh kearah Laura dan tersenyum. “Great idea!” Amanora langsung mengambil gagang telepon.

“Halo?” jawab Rachel diujung sana.

“Hola Rachel!” ucap Amanora lalu ia mengaktifkan loudspeaker agar Laura dan Ingrid bisa ikut mendengar.

“Hi, dear! Sorry aku belum bisa datang ke apartemenmu sekarang. Mungkin paling cepat lusa aku ada waktu luang. Gimana? Kalian mau menungguku?” Rachel meminta maaf dan menjelaskan alasannya.

Mimik muka Laura, Ingrid, dan Amanora sangat menyayangkan, tapi mereka bisa mengerti kesibukan Rachel.

“Yup. Kita bisa ngerti. Dan kita pasti akan menunggumu datang. Tapi kamu janji harus datang ya?” Ingrid angkat bicara.

“Okay. Aku janji aku pasti datang. Makasih kalian udah mau ngerti. Ow, gawat! Aku harus tampil sekarang, baiklah sampai jumpa ya!” Rachel memutuskan sambungan telepon.

“Well, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Ingrid bertanya.

“Pastinya simpan cerita Kak Erish sampai Rachel datang,” ucap Laura.

“Yah, baiklah. Walaupun aku penasaran,” Ingrid memainkan rambutnya.

“Aku juga. Mmmm… Apa rencana kita sebelum Rachel datang?” Amanora duduk disebelah Laura.

“Aha! Aku punya ide bagus sambil menunggu Rachel datang,” cetus Ingrid.

“Apa?” Amanora penasaran.

“Keliling Dunia? Hehe bukan sih, maksudnya cuma ke suatu negara. Liburan ke luar negeri. Gimana?”

“Setuju!” jawab Laura langsung.

“Sangat setuju!” tambah Amanora.

“Ok. Sekarang kita tentukan mau pergi ke negara mana,” Ingrid mulai berpikir.

“Ke Swedia? Lihat Aurora Borealis dengan jelas?” Laura menyampaikan ide yang muncul dalam pikirannya. “Atau Florence, Italia-Kota Seni?”

“Mmmm… Spanyol? Kita berjemur di Barcelonita,” Ingrid tambah bingung, Laura mengernyitkan dahi. Dia tak perlu berjemur!

“Prancis? Shopping baju-baju keren disana,” Amanora mengusulkan, Laura terlihat sangat tertarik.

“Eits, tunggu dulu. Setelah ketemu negara mana yang dikunjungi, aku mau langsung pesan tiket pesawat yang bisa berangkat sore atau malam ini juga. Dan, tentu saja, visa untukmu, Laura,” Amanora memandang sesaat.

Laura menggigit bibir bawahnya. Ini resiko orang yang berpaspor Indonesia! Amanora dan Ingrid yang berpaspor AS pasti tidak memerlukan visa untuk datang ke Eropa, karena sudah bisa dipastikan mereka akan menuju Benua Biru, melihat usulan-usulan negara yang tercetus diatas.

Amanora melanjutkan, “Kita hanya beberapa jam saja disana, jadi taruh koper kalian dikamarku!”

“Ya, bagus juga. Dengan begitu, aku sama Ingrid nggak perlu bantu kamu untuk packing kan?” Laura mengangguk setuju.

“Yeah, karna kalian selalu menjerit melihat koper-koperku!”

“Jadi, mau negara mana yang diputuskan?” tanya Ingrid bingung karena banyak tempat yang masuk daftar.

“Prancis! Kita harus shopping!” ucap Laura lantang dan jelas.

***

Sampai di Paris, mereka langsung menuntaskan misi mulia yang sudah dijunjung sejak di New York: Shopping! Tak perlu ditanya bagaimana cara mereka mendapatkan Visa Schengen untuk Laura. Amanora memiliki rekanan bisnis yang juga bekerja di Konsulat Prancis di New York, jadi Visa untuk Laura bisa didapat dalam hitungan menit.

“Ehmmm… I love it!” kata itu langsung keluar dari mulut Laura ketika ia mencoba jaket sulaman dari brand Guess.

Ingrid tak lupa datang ke Louis Vuitton. Menurut Laura, ini ide bagus. Sebab mereka dapat discount sampai 70%. Mereka hanya punya waktu 10 jam di Paris, karena perjalanan dari New York sudah cukup memakan waktu. Jangan sampai Rachel berada di apartemen Amanora saat mereka belum kembali.

“Jean Paul Gaultier!” Amanora menarik kedua tangan sahabatnya yang sudah mulai dipenuhi shopping bag.

Amanora mencoba blues panjang warna hijau tosca. Tapi Laura dan Ingrid langsung menggeleng bersamaan. Karena tak dapat restu, Amanora akhirnya mengurungkan niatnya membeli blues itu dan akhirnya membeli blues dengan model yang hampir sama berwarna fuschia di butik Stella McCartney, yang sebenarnya berasal dari New York.

Laura juga beruntung. Ia mendapatkan pakaian yang dia inginkan di Moschino. Sepotong camisol hitam yang sangat cantik saat dicobanya.

“Untung saja aku cukup bersabar hingga aku mendapatkan pakaian yang cantik ini,” ucap Laura sambil mengerling kearah Ingrid dan Amanora.

“Ya udah deh cepetan yuk. Waktu kita disini sudah makin sebentar. Memang kamu nggak jadi cari sepatu dan tas? Aku yakin kamu tidak akan melewatkan koleksi terbaru Birkin. Aw, kita juga harus ke Elizabeth Arden! Aku harus mengecek penjualan parfumku di Paris,” ungkap sang party goers menjelaskan.

Laura mengangguk cepat. Benar apa yang Amanora bilang, ia tak ingin melewatkan koleksi tas tangan terbaru dari Hermes Birkin. Belum lagi, Laura juga pasti akan menyesal jika tak membeli sepatu-sepatu cantik Christian Louboutin.

“Aku harus beli jam tangan!” Laura tiba-tiba menjerit ketika ketiganya sudah bersiap melongok koleksi terbaru Gucci dan Givenchy.

“Astaga! Biasa aja. Kita bisa ke mampir Tag Heuer sebelum datang ke Butik Versace dan Roberto Cavalli,” Amanora memberitahu Laura.

“Enggak! Aku mau Roger Dubuis!” Laura menjerit lebih keras lagi.

Amanora memandang ke sekeliling, memastikan para pria dan wanita Prancis tak memperhatikan mereka, “Iya sayang. Okay,” Amanora menarik lengan Laura, sementara Ingrid langsung membuka shopping map-nya untuk mencari dimana letak Roger Dubuis.

***

“How you guys feelin’?” tanya Rachel saat baru masuk kedalam apartemen.

“We’re fine,” Laura mewakili semuanya menjawab pertanyaan Rachel.

“Yeah syukurlah. Kalau sedang mendengar satu masalah, baiknya kita sedang dalam keadaan yang baik,” ucap Rachel sambil melangkah ke kamar Amanora untuk menaruh kopernya.

Rachel terhenti sejenak di daun pintu, “Kalian darimana, girls?”

Laura menepuk jidatnya dan maju menghampiri Rachel, “We are so sorry, Rachel. Saat kamu bilang kamu baru bisa datang hari ini, dua hari yang lalu kita sepakat untuk liburan sambil nunggu kamu datang. Tapi bukan liburan yang sebenarnya kok. Kita cuma 10 jam shopping di Paris,” Laura menjelaskan secara rinci dan tak berbohong sedikitpun.

“Setelah itu kita langsung pulang lagi,”

“Lalu apa masalahnya denganku? Masa kalian liburan harus nunggu aku. Kalau bentrok sama schedule-ku berarti kalian nggak pernah bisa liburan dong? Biasa aja, lagi. Toh suatu hari nanti kita pasti bisa pergi berlibur sama-sama lagi. Secepatnya!”

Laura, Ingrid, dan Amanora mengangguk dan tersenyum lega. Sementara Rachel memulai pembicaraan lagi.

“Okay, sekarang gimana cerita tentang Erish?”

“Laura!!!” ucap Ingrid dan Amanora berbarengan.

“Iya, aku juga tahu. Gini deh, sebenernya masalah Kak Erish cuma satu, dia punya pacar,”

“Apa? Erish punya pacar?” ucap tiga orang itu bersama.

“Aku juga kaget, kok Kak Erish nggak pernah cerita. Malah sekarang dia lagi jadi orang aneh,” Laura menambahkan.

“Miss Perfect punya pacar juga,” Ingrid berucap pelan.

Laura mengerti maksud perkataan Ingrid. Erish memang Miss Perfect. Dia benar-benar menginginkan lelaki yang sangat sempurna dimatanya. Maka tak heran, mereka begitu kaget begitu mendengar Erish sudah memiliki kekasih.

“Laura, kamu harus kasih warning ke dia kalo lebih mentingin pacarnya, persahabatan kita hancur,” Amanora menegaskan pada Laura.

“Jangan!” Laura langsung menolak. “Kalo aku ada diposisinya, aku nggak

mau dihadapkan sama pilihan,”

*

Iklan

Colourful World – Bab 4

Bab 4

Awal Sebuah Mimpi

Hari pertama setelah menjadi pemenang Miss Singer, Laura diajak oleh beberapa chaperone yang mendampinginya selama karantina ke sebuah ruangan untuk dikenalkan pada tim management-nya.

“Okay, Laura. Mereka semua ini adalah bagian dari management yang akan mendampingi kariermu,” salah seorang chaperone menjelaskan.

“Ini managermu, Larry Johanson. Kamu tahu, dia juga manager untuk Rachel Jean Cartney,” chaperone itu melanjutkan. Laura menjabat uluran tangan Larry lalu saling tersenyum. Larry mengedipkan sebelah matanya. Chaperone itu tak tahu Laura mengenal baik Larry.

Selanjutnya, Laura dikenalkan pada Allyson Bartlet yang didaulat sebagai asisten pribadinya, John Scout sebagai sebagai penata rias, Laurentius sebagai penata rambut, dan terakhir adalah Arcelly Croal sebagai penata kostum. Semuanya berbau ‘pribadi’.

Laura bersyukur ia bisa mendapatkan tim management yang profesional dan bertangan dingin.

Kehidupan baru Laura sebagai Miss Singer dan penyanyi dunia baru dimulai. Ia resmi pindah dari Jakarta dan beralih menjadi ‘warga’ Los Angeles. Laura menikmati hari-harinya dengan berbagai kegiatan dunia selebriti. Untuk urusan sekolah, Laura memilih untuk ‘Home-Schooling’, daripada harus datang ke sekolah setiap hari. Bila ia masuk ke sekolah tiap hari, mungkin jadwal kegiatannya akan kelewat padat. Tapi sekarang, ia dapat mengerjakan tugas sekolah dan mendapatkan bahan pelajaran lewat internet sehingga masih bisa melakukan kegiatannya yang lain. Karena terbiasa untuk bersikap disiplin, Laura dapat menjalankan kegiatannya yang padat dengan baik.

Tiap harinya, Laura sibuk menyanyi di banyak acara, baik di dalam maupun luar negeri. Ia juga datang ke berbagai ajang penghargaan, dan memulai debut aktingnya pada 4 bulan kedepan.

Beberapa bulan setelah acara grand final Miss Singer, Laura datang ke acara bergengsi yang paling banyak dibicarakan di seluruh dunia, Academy Awards atau yang lebih dikenal dengan sebutan Piala Oscar. Disana, Laura banyak bertemu selebriti-selebriti dunia seperti aktor senior George Clooney, Phillip Seymour Hoffman, Danzel Washington, bahkan George Lucas – sang sutradara Star Wars dan Ang Lee – sutradara film Brokeback Mountain. Ada juga Hillary Swank, Reese Witherspoon, Katie Holmes dan Tom Cruise, Kiera Knightley, John Travolta dan Kelly Preston, Orlando Bloom dan sang istri yang juga Victoria’s Secret Angel, Miranda Kerr, Johnny Depp, dan masih banyak lagi.

Baru beberapa langkah berjalan di red carpet, Laura menjadi pusat perhatian, karena ia mengenakan gaun rancangan John Galliano for Christian Dior dengan sangat anggun dan elegan. Tak menyangka Rachel datang dibelakangnya. Mereka saling tersenyum melihat keanggunan masing-masing. Mereka pun sepakat untuk berjalan bersama. Laura duduk disamping Rachel didalam ruang acara. Ia sangat bahagia bisa datang di ajang bergengsi ini. Apalagi dia juga dikenalkan langsung oleh Chris Rock, sang pembawa acara pada seluruh hadirin.

***

Ini sudah menjadi bulan kesekian sejak Laura resmi menyandang gelar Miss Singer. Ia sedang menonton acara TV yang sangat digemarinya, Sex and The City, ditemani Valder yang sengaja datang menjenguk, di apartemen dinas mewahnya di jantung Hollywood saat seorang kru Miss Singer mengontak ponselnya kalau ia harus segera bersiap dalam 3 jam untuk sebuah kunjungan ke Roma, Italia, untuk menghadiri sebuah acara amal Eropa yang ditujukan bagi anak-anak Afrika.

Sekarang inilah kegiatan Laura. Semua jadwal memang sudah tertata rapi sejak jauh-jauh hari. Namun tak menampik kemungkinan jika ada acara-acara mendadak yang mengundangnya.

“Ayo Laura, pesawatnya akan boarding 15 menit lagi,” ucap Allyson di bandara, sesaat setelah Laura sampai disana.

“Iya, tapi koperku ada yang tertinggal di apartemen,” jawab Laura meringis.

Valder yang juga ada disana untuk mengantarkan kekasihnya itu langsung menoleh kearah Laura dengan ekspresi kaget.

“Kok bisa, Laura? Kamu tahu kan setelah dari Roma, kita akan ada konser penting di London?” Allyson terlihat berang.

Valder yang menangkap signal cemas dan ketakutan dari wajah Laura langsung membela, “Tadi dia sangat terburu-buru. Sudahlah, nanti aku yang akan mengambilnya dan mengirim koper itu lewat pesawat berikutnya,”

“Tidak perlu, Valder. Kamu hanya perlu mengantarkan koper itu ke Larry. Dia sekarang masih bersama Rachel, entah dimana mereka. Larry baru akan datang ke Eropa untuk konser Laura di Inggris,”

“Ok, aku akan menghubungi Rachel lebih dulu. Aku janji, koper itu dipastikan akan dibawa Larry ke Eropa,” Valder memandang Laura yang merasa bersalah.

“Okay, thank you, Valder. Aku tunggu di bagian pemeriksaan imigrasi secepat mungkin, Laura,” Allyson berlalu meninggalkan Laura dan Valder berdua.

Valder memeluk Laura, “Hati-hati ya sayang. Jaga diri baik-baik. Jangan pikirkan soal tadi, semuanya akan beres,” Valder senang melihat Laura tersenyum dan segera mencium keningnya, “Aku akan jemput kamu disini saat kamu kembali,”

Laura mengangguk dan mengecup pipi kekasihnya dengan lembut dan sekali lagi memeluknya sebelum pergi menyusul Allyson karena pesawatnya akan segera boarding.

***

Karena cuaca yang tidak memungkinkan di Bandara Leonardo Da Vinci Fiumicino, Roma, untuk pendaratan pesawat, Laura dan Allyson akhirnya mendarat di Bandara Malpensa, Milan. Mereka lalu melanjutkan perjalanan darat dengan kereta api cepat menuju ibukota negara pizza tersebut.

Laura hanya menjejakkan kakinya selama 8 jam di Roma. Ia harus segera meninggalkan negeri Romeo dan Juliet itu karena keesokan harinya sudah harus melakukan latihan untuk konser tunggal perdananya di Glastonbury, Inggris.

*

Colourful World -Bab 3

Bab 3

Kemenangan Yang Nyaris Sempurna

Laura menarik napas panjang disela makannya. Ini sarapan terakhirnya dengan teman-teman barunya di karantina Miss Singer. Tidak terasa, 29 hari kebersamaan mereka akan berakhir juga. Malam nanti adalah penentuan siapa yang terbaik dari 85 gadis bersuara merdu ini.

“Ehm… Aku tidak menyangka kalau hari ini adalah hari terakhir kita sama-sama,” ucap Laura sambil memegang telapak tangan Chantal dan Kiera yang duduk disisi kanan dan kirinya.

Chantal dan Kiera membalasnya dengan memegang erat tangan Laura lalu menempatkan dagu mereka dibahunya.

“Aku juga sedih. Aku mau kita tetap berhubungan baik setelah acara ini selesai,” ucap Chantal menahan tangis.

“Chantal, sekarang jangan nangis dulu. Nanti malem puncaknya. Aku nggak mau kita tangis-tangisan sekarang karena nanti takutnya malah mengganggu penampilan kita diatas panggung,” Kiera berusaha mengalihkan perhatian kedua sahabat barunya yang terlihat mulai menangis.

“Udah. Kiera bener, kamu jangan nangis dulu. Kalau nanti malam kita masuk 15 besar, nyanyian kita jadi nggak merdu, kan?” ungkap Laura sambil memeluk mereka berdua.

Mereka lalu melanjutkan kembali acara makannya hingga selesai. Masih seputar perpisahan, mereka berbincang-bincang hangat. Dan tidak ketinggalan juga, persiapan akhir untuk acara puncak malam harinya.

Para kru Miss Singer mulai berteriak agar semua finalis segera berkumpul di lobby hotel tepat jam 10 pagi. Mereka semua harus segera sampai di tempat acara untuk gladi bersih. Tidak boleh ada satu pun yang tidak sesuai dari rencana semula.

“Ingat, kalian semua harus konsentrasi penuh!” bentak seorang chaperone.

***

Setiap finalis mulai sibuk dengan dirinya masing-masing. Ada yang merapikan gaunnya berulang kali, ada juga yang kembali men-touch up riasannya agar terlihat makin sempurna.

Laura agak berbeda. Demam panggungnya kumat. Ia mondar-mandir tak karuan. Jantungnya berdetak dengan cepat. Chantal yang bisa melihat dengan jelas bahwa Laura sedang cemas, langsung menghampirinya.

“Kamu kenapa, Laura?” tanya Chantal pelan.

“Aku grogi. Aku takut, Chantal,” jawab Laura sambil menggigit bibir bawahnya.

Belum sempat Chantal menjawab, gadis dibelakang Laura mengambil alih pembicaraan. Itu Kiera.

“Sekarang kamu berdo’a dan aku yakin kamu pasti bisa lebih tenang,” ucap Kiera sambil memegang lembut pipi Laura.

Laura mengangguk. Ia lalu mengikuti saran Kiera untuk berdo’a agar hatinya dapat sedikit lebih tenang.

Setelah Laura selesai berdo’a dan membuka matanya dengan perlahan, hatinya mulai agak tenang. Para kru mulai mensejajarkan para finalis satu per satu

menurut abjad asal negaranya. Acara akan dimulai 2 menit lagi. Itu berarti kompetisi tinggal menghitung detik.

Semua hati para finalis mulai diliputi rasa cemas ketika tirai panggung mulai tersibak. Dentuman musik terdengar sangat keras ketika mereka melangkah menuju tengah panggung. Laura berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan demam panggungnya. Jantungnya berdetak sangat kencang ketika ia melihat lautan manusia didepannya. Ia sudah bisa menduga bahwa seluruh kursi di Shrine Auditorium, Los Angeles sudah terisi penuh.

Laura tersenyum ketika melihat delegasi Indonesia hadir disana. Kibaran bendera merah putih yang dibawa staf KJRI dari San Francisco, mampu memompa api semangatnya. Koreografi yang telah dipersiapkan mampu digerakkannya dengan sempurna.

Selesai acara pembukaan, MC Miss Singer mempersilahkan salah satu bintang tamu untuk segera menyanyi. Setelah itu pengenalan para dewan juri yang terdiri dari Celine Dion, Justin Timberlake, Ted Turner, Melania Knauss-Trump, Amelia Vega, dan juga empat orang lainnya yang punya pengaruh besar di dunia musik internasional.

Pengumuman 15 besar dimulai juga. Pembawa acara yang terdiri dari 2 orang masing-masing membawa kertas berisi finalis yang berhasil menyisihkan 70 gadis lainnya.

“The first, Dominican Republic!” ucap pembawa acara lelaki.

“Second, United Kingdom!” giliran sang wanita yang mengumumkan.

Canada, Brasil, Australia, USA, Panama, South Africa, Venezuela, Mexico, Sweden, dan Puerto Rico telah dipanggil untuk menemani Miss UK dan Miss Dominican Republic dibarisan depan. Laura mengamati dengan seksama. Ia tak mau jadi orang munafik, ia juga berharap bisa menemani Kiera dan Chantal yang sudah terpilih lebuh dulu.

“Indonesia!”

Kata indah itu akhirnya keluar juga dari mulut sang pembawa acara. Laura tak bisa menahan rasa haru. Sambil berjalan kedepan, ia menutup mulut dengan kedua tangannya tanda masih tak dapat dipercaya. Kiera dan Chantal langsung memeluknya ketika Laura sampai ditempat ketigabelas. Ia terlalu hanyut dalam kegembiraan hingga tak sadar ketika Miss Egypt dan Germany juga masuk 15 besar.

Untuk penentuan siapa yang berhak maju ke 10 besar, pihak panitia meminta juri untuk menilai keeleganan finalis ketika menggunakan evening gown. Semua finalis terlihat sangat cantik. Laura sendiri mengenakan gaun hitam berpayet warna ungu dengan kerah berbentuk V.

Sepertinya banyak juri yang jatuh hati pada Laura sehingga ia mendapat nilai tertinggi di sesi evening gown dan berhasil menjadi 10 besar. Sekarang Laura bisa tersenyum lebar-lebar pada penonton. Demam panggungnya seketika hilang berganti dengan semangat yang luar biasa. Hatinya makin gembira ketika Kiera dan Chantal juga masuk 10 besar bersama Sharon, Charlize, Rose Mary Alansky, Miss Canada, Jennifer Xanna, Miss Australia, Priscilla Arielle, Miss Panama, Gabriella Vasquez, Miss Puerto Rico, dan Denise Rivera, Miss Dominican Republic.

Laura harus merelakan Kiera saat gadis itu dinyatakan gagal masuk 5 besar. Namun ia masih bisa tersenyum saat Chantal dinyatakan berhasil. Dibelakang Chantal ada Denise, Gabriella, dan Jennifer untuk berkompetisi lebih jauh lagi.

***

Cara penilaian menjadi pemenang berbeda dengan ketika masuk 10 atau 5 besar. Sekarang lima gadis bersuara merdu itu diharuskan untuk menyanyikan dua

lagu yang terdiri dari lagu bertempo lambat dan cepat. Selain itu mereka juga harus menjawab pertanyaan yang dibuat teman sesama finalis.

Laura sukses menyanyikan lagu-lagunya. Ia bahkan mendapat standing applause dari Celine Dion yang menjadi juri sekaligus pemilik lagu That’s The Way It Is yang ia nyanyikan.

Sekarang saatnya sesi pertanyaan. Miss Dominican Republic mendapat kesempatan awal. Terlebih dahulu pembawa acara membacakan profil sang finalis.

“Denise Rivera Torino, 21 tahun dan Mahasiswi Akuntansi Universitas San Juan. Punya hobi membaca dan menulis, selain menyanyi. Dan ia bercita-cita menjadi penulis novel. Okay, Miss Dominican Republic, anda mendapat pertanyaan dari Miss Egypt, Sarah Bayram. Dengarkan dengan baik dan utarakan jika aku harus mengulang kembali pertanyaannya. Menurutmu, mengapa semua siswa sekolah dasar dan menengah diharuskan belajar sejarah selain karena itu sangat penting?”

Denise tersenyum sejenak, lalu mulai menjawab, “Sejarah memiliki nilai karakteristik yang tinggi. Kita bisa mengetahui apa saja yang telah dilakukan manusia di masa lampau. Kita juga bisa mengambil manfaat yang sangat berarti untuk hidup kita. Selain itu, kita bisa bertindak lebih baik dan menilai segala sesuatunya dengan bijaksana. Dengan sejarah juga kita dapat menyikapi fenomena serta dinamika kehidupan,” Denise menjawab tenang.

Setelah Denise, waktunya Chantal maju kedepan. Lalu baru Jennifer dan kemudian Gabriella. Sementara Laura mendapat giliran yang terakhir.

“Okay, Miss Indonesia. Laura Maurisia Morasca, 16 tahun, dan masih tercatat sebagai siswi USA International School di Jakarta. Selain menyanyi, ia memiliki hobi travelling dan shopping. Ia juga ingin menjadi seorang bintang besar. Obsesinya yang lain ingin membuat lembaga bahasa gratis di negeri asalnya. Okay Laura, anda mendapat pertanyaan yang sangat penting dari Miss Finland, Coralla Zevit. Sudah siap?”

Laura mengangguk cepat sambil tak pernah melepaskan sedetikpun senyum manis dari bibir indahnya.

“Apa hal terberat yang pernah kau alami didalam hidupmu?”

Laura memejamkan matanya sejenak, dan dengan berusaha setenang mungkin, ia mulai menjawab, “Bagiku, hal terberat yang pernah kualami dalam hidupku adalah ketika aku sadar bahwa aku memiliki sahabat-sahabat seorang bintang. Aku selalu menilai segala tingkah lakuku senantiasa salah dan tak sejalan menurut pandangan mereka. Kerapkali aku terlihat tidak setuju akan hal-hal yang mereka lakukan, yang ternyata diluar dugaan. Ketika itu pula kami berselisih paham tentang argumen-argumenku yang menurut mereka tidak realistis. Aku sadar akan eksistensiku yang hanya seorang sahabat, yang tidak memiliki predikat. Namun aku selalu berusaha sebaik mungkin untuk tetap berjalan lurus disamping mereka tanpa melenyapkan kepribadianku. Dan aku bersyukur, bahwa sampai saat ini hubungan kami baik-baik saja. Terima kasih,”

***

Chantal, Gabriella, Denise, Laura, dan Jennifer berpegangan erat satu sama lain. Tinggal beberapa detik lagi pemenang akan diumumkan.

“The 4th runner up is…”

“Dominican Republic!”

Denise melangkah maju kedepan untuk menerima buket bunga. Ia memberikan senyum terbaiknya dan rela hanya menjadi 5 besar.

“And then, 3rd runner up is…”

“Venezuela!”

Laura mengecup Chantal. Seketika gadis itu segera lenyap dari pandangannya.

“The 2nd runner up is…”

“Australia!”

Jennifer melangkah maju setelah memeluk Gabriella dan Laura secara bergantian.

Sekarang hanya tersisa dua orang terbaik dan itu berarti salah satu dari mereka akan keluar menjadi pemenang. Untuk menenangkan diri, Gabriella mengecup pipi Laura dengan lembut. Masing-masing mereka memberi semangat. Laura merasa cemas, ia menggenggam erat tangan Gaby. Saat ini sudah dipastikan, delegasi Indonesia dan Puerto Rico sedang harap-harap cemas. Mereka menginginkan wakilnya dapat berjaya di ajang ini.

“The 1st runner up is Puerto Rico and the 1st Miss Singer is Indonesia!!” suara sang pembawa acara terdengar sangat lantang.

Laura menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia sangat terkejut dan seakan tak percaya. Seketika Gabriella langsung memeluknya. Laura sepertinya ingin menangis. Ia tak dapat lagi menahan haru ketika Celine Dion memasangkan selempang ditubuhnya dan Amelia Vega memasangkan mahkota kebanggaan dikepalanya. Laura akhirnya menangis saat pembawa acara mempersilakannya untuk berjalan di panggung sebagai seorang Miss Singer untuk pertama kalinya.

***

Belum habis tangis haru campur bahagia karena berhasil mendapatkan gelar kehormatan sebagai The First Miss Singer, datanglah 4 gadis cantik yang 3 diantaranya sudah sangat dikenal di jagat hiburan internasional. Semua mata para finalis membelalak tak percaya, termasuk Laura yang langsung dipeluk keempatnya.

“Congrats ya…” ucap keempatnya kompak.

“Kalian? Oh my God!! I’m so lucky tonight!” Laura terlihat sangat bahagia.

“Loh… kita kan sahabat. Masa sih kita nggak datang?!” jawab Rachel manis.

“Kak Erish! Aku nggak nyangka Kak Erish ada disini. Bukannya Kak Erish bilang nggak bisa dateng ya waktu terakhir kita Skype?” Laura bertanya penasaran, lalu tersenyum.

“Nggak seneng nih kakak disini? Kakak emang sengaja kok bikin surprise buat kamu,” Erish memencet hidung Laura dan langsung memeluknya lagi.

Sementara yang lainnya melihat Laura dengan pandangan seksama dan nyaris tak percaya. Banyak dari mereka yang berbisik-bisik membicarakan sang pemenang.

“Laura, mereka bilang kamu mengkhawatirkan aku. Terima kasih ya, tapi aku baik-baik aja,” Ingrid menyentuh pundak Laura pelan sambil tersenyum.

“Syukurlah…” Laura tersenyum lega.

“Party!” Amanora berbicara tiba-tiba. “Bagaimana kalau ada party untuk merayakan kemenangan Laura?”

Laura, Erish, Ingrid, dan Rachel saling menatap satu sama lain lalu mengangguk bersama, “Ok.. Your wish comes true, miss party goers!” jawab mereka kompak.

“Yes, I am!” Amanora tersenyum penuh kemenangan.

“Tapi nggak dalam waktu dekat ini ya. Aku harus lihat jadwalku dulu. Bukan bermaksud menyombong loh… Tapi kalian nggak mau kan mahkota ini terlepas dari kepalaku secepat aku mendapatkannya?” Laura berharap cemas menanti jawaban dari sahabat-sahabatnya.

“Siapa bilang akan ada pesta sekarang? But sooner…” jawab Amanora diiringi

anggukan Ingrid, Rachel, dan Erish.

“Thanks girls…” Laura melanjutkan, “Oh ya teman-teman,” Laura berbalik menghadap teman-teman sesama finalis Miss Singer lalu memperkenalkan sahabat-sahabatnya, “Seperti yang sudah bisa kalian lihat sendiri, mereka semua ini adalah sahabat-sahabatku. Kalian pasti sudah mengenal Rachel, Ingrid, dan Amanora. Nah yang disebelah Rachel itu sahabatku juga, namanya Erish, Erishia Carella. Dia juga superstar loh di negaraku, hehehe,” Laura menunggu tanggapan karena ia tak bermaksud menyombongkan diri memiliki sahabat orang terkenal.

“Aku sudah menyangka pertanyaan yang kamu jawab tadi ternyata memang benar,” Chantal bersemangat.

“Ahh kenapa bisa bintang yang kukagumi ternyata sahabatmu. Rachel.. Apakah aku boleh memelukmu?” Andrea memohon penuh harapan.

Rachel tersenyum dan membuka tangannya, siap untuk dipeluk Andrea Ferdenson, Miss Ireland yang hampir 2 minggu sebelumnya sangat memuji penampilannya di panggung American Music Awards.

“Maaf ya, karena saat di Nokia Theatre tidak memberitahumu soal ini. Kamu nggak marah, kan?” Laura meminta maaf.

“Tadinya. Tapi setelah kamu mewujudkan mimpiku bertemu Rachel dan aku bisa memeluknya, kau kumaafkan,” jawab Andrea seusai melepas pelukannya dari Rachel.

Laura mengalihkan pandangannya kearah Amanora, “Mana adikmu? Dia sudah tidak mengakuiku lagi ya sebagai kekasihnya?” Laura terlihat masam, wajahnya cemberut ketika menyadari bahwa Valder tak ada disana.

Amanora memandang Erish, Rachel, dan Ingrid, lalu berusaha menenangkan Laura, “Sayang, sebenarnya adikku sangat ingin datang malam ini. Tapi mendadak Kate harus pergi dengan Mommy ke Florida, jadi Valder yang harus menggantikan kehadiran Kate di suatu meeting di London. Tapi kamu tenang saja, aku selalu update semuanya ke dia dan aku juga sudah mengirimkan foto-fotomu tadi diatas panggung. Valder akan pulang besok pagi dengan pesawat pertama dari Heathrow,”

Ketika Laura ingin lebih banyak berbicara lagi dengan para sahabatnya, beberapa kru Miss Singer memanggilnya untuk segera hadir dalam konferensi pers di Lobby. Laura juga diberitahu bahwa ibunya juga sudah ada disana dan akan mendampinginya selama konferensi pers berlangsung. Laura memandang wajah keempat sahabatnya yang langsung mengangguk tanda mengizinkan.

“Come on, Laura. Sekarang, ini duniamu. Kamu harus bisa membiasakan diri untuk bertemu paparazzi. Karena, you are a superstar, baby…” ucap Rachel sambil memegang lembut pipi Laura.

Laura tersenyum dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Sebelum berlalu, ia berbisik pelan kearah Amanora, “Telepon adikmu sekarang dan bilang, Aku sangat rindu padanya,”

Amanora tersenyum, “Ok,” ia terlihat langsung merogoh tas dan mencari ponselnya. Langsung ditekannya nomor darurat pertama, “Laura bilang dia sangat merindukanmu,”

*